Butterfly

Melayang Tinggi Entah Kemana...


Butterfly merupakan film arahan Nayato Fio Nuala yang sebelumnya juga telah memproduksi film bertema sejenis, yakni Cinta Pertama dan Kangen. Kisah filmnya seputar hubungan persahabatan antara Tia (Poppy Sovia), Desi (Debby Kristy), dan Vano (Andhika Pratama). Alur cerita utama mengisahkan perjalanan liburan tiga sahabat tersebut ke tempat wisata pulau impian. Sepanjang cerita filmnya penuh dengan adegan kilas-balik yang menuturkan bagaimana persahabatan mereka bermula hingga masalah-masalah yang mereka hadapi. Persahabatan mereka mulai goyah ketika mereka saling menyukai satu sama lain. Sikap Vano tak jelas, Tia jelas menyukai Vano, sedang Desi tidak mau kehilangan Tia. Perjalanan liburan mereka kemudian terganggu oleh penyakit Desi yang semakin menjadi. Perjalanan tersebut rupanya menjadi perjalanan perpisahan bagi Desi.

Seperti film-film arahan sineas sebelumnya, yakni Ekskul dan Cinta Pertama, Butterfly sarat dengan penuturan kilas-balik. Namun kali ini penggunaan teknik kilas-balik lebih intensif dari film-film sebelumnya. Maksud sineas menggunakan penuturan ini untuk mendukung alur cerita utama sehingga penonton mendapatkan latar belakang cerita untuk memahami situasi yang tengah terjadi. Memang cukup menarik namun ada beberapa hal penting yang masih belum jelas. Tidak jelas apa penyakit yang diderita Desi dan mengapa ia tidak mau pergi ke dokter (obat Desi asalnya darimana?). Tak jelas sebenarnya Desi tertekan lebih karena sakitnya, perceraian orang-tuanya, atau Tia dan Vano? Kilas-balik juga tidak berimbang antara Desi, Tia, dan Vano. Latar-belakang dan masalah keluarga Tia (cuma sekali, ketika ibunya berselingkuh) tidak memiliki motif yang jelas. Bahkan latar-belakang Vano sama sekali tidak diperlihatkan. Hal-hal tersebut yang menyebabkan motivasi munculnya beberapa adegan menjadi lemah. Seperti di akhir kisah menjadi tak jelas, mengapa Tia dan Vano membawa Desi yang sekarat ke pulau impian yang menjadi tujuan perjalanan mereka dan bukannya ke rumah sakit?

Dari sisi teknis, film ini amat didukung aspek sinematografi yang cukup dominan. Penonton banyak dimanjakan gambar-gambar indah dengan komposisi visual yang cukup baik terutama pada setting outdoor-nya. Seperti pada film-film sebelumnya, sang sineas gemar menggunakan arah pandang low-angle dengan ketinggian kamera sangat rendah. Entah karena style sang sineas atau motif tertentu namun kadang teknik ini terasa mengganggu terutama ketika para karakternya tengah berdialog. Dari sisi pemain, jika dibandingkan Cinta Pertama dan Kangen, kasting pemainnya juga jauh lebih baik. Para pemain mampu memainkan perannya cukup natural dan tidak berlebihan. Kelemahan (seperti biasa) hanya terlihat pada dialognya. Lalu beberapa nomor lagu yang manis dibawakan Melly Goeslow juga cukup pas mendukung mood beberapa adegannya.

Satu pertanyaan terakhir yang mengganjal adalah mengapa kupu-kupu (butterfly)?, motifnya masih kabur. Kupu-kupu bisa jadi dimaksudkan sebagai simbol jiwa Desi, Tia, atau Vano yang ingin bebas dari semua masalahnya, atau mungkin lainnya? Tetapi mengapa harus kupu-kupu dan apa motif kisahnya? Apakah Desi hobi mengoleksi kupu-kupu, ataukah Vano mahasiswa Biologi, atau mungkin cuma kebetulan? Entahlah yang jelas Butterfly melayang jauh entah kemana… namun jelas film ini jauh lebih baik dari film-film sang sineas sebelumnya.

Adhitya Nugroho

No comments: