Kuntilanak Versi Baru


Kisah Kuntilanak diawali oleh mimpi buruk yang tiap kali menghantui Sam (Julie Estelle). Sam lalu pindah dari rumahnya dan mendapatkan kost di sebuah rumah kuno disamping areal pekuburan. Sejak pindah ke rumah tersebut Sam mengalami kejadian-kejadian aneh yang berhubungan dengan mimpinya. Sam berulang kali seperti kerasukan mahluk halus jika ia disakiti oleh seseorang dan orang tersebut tak lama tewas dengan kondisi mengenaskan. Perilaku Sam bertambah aneh dan bahkan ia mulai menyakiti pacarnya, Agung (Evan Sanders) serta membunuh rekan satu kostnya, Dinda (Ratu Felisha) yang sama sekali tidak bersalah. Belakangan diketahui jika sang pemilik rumah ternyata memelihara Kuntilanak untuk pesugihan dan anak-anak kost merupakan tumbalnya. Sam yang ternyata juga memiliki wangsit untuk memanggil Kuntilanak harus berhadapan sang pemilik rumah untuk menyelamatkan Agung.

Apa yang terbayang ketika mendengar kata, Kuntilanak. Menurut mitos awam, Kuntilanak merupakan sosok gaib yang berwujud wanita berambut panjang, berpakaian putih dan suara “tertawa” yang khas. Namun sosok Kuntilanak dalam film ini sangat berbeda jauh. Sang sutradara, Rizal Mantovani menggambarkan Kuntilanak sebagai mahluk gaib yang memiliki wujud separuh wanita separuh kuda. Diceritakan Kuntilanak setelah dipanggil masuk ke alam manusia melalui perantara sebuah cermin khusus. Cara memanggilnya pun cukup unik yakni dengan mendendangkan tembang Durmo. Patut dihargai usaha sang sutradara untuk menggali mitos-mitos mahluk gaib lokal seperti telah dilakukan sebelumnya lewat Jelangkung. Namun ada hal-hal yang sedikit kurang jelas seperti fungsi tanda yang ada di pundak belakang Sam; mengapa Agung tidak mati setelah ia “dikutuk” oleh Sam; serta motif membunuh Dinda yang dirasakan kurang beralasan.

Salah satu nilai lebih film ini adalah keberhasilan sang sutradara membangun atmosfir yang mencekam serta penuh misteri melalui latar rumah kuno peninggalan Belanda yang suram dengan dukungan ilustrasi musik mistikal dari Andi Rianto. Perabotan antik seperti lemari, ranjang, kursi serta cermin cukup mendukung suasana. Hanya saja yang menjadi pertanyaan sekarang, orang waras mana yang mau tinggal atau indekost di sebuah rumah kuno besar yang tidak terawat di sebelah areal pekuburan pula. Alasan biaya kost murah tidak bisa lantas begitu saja dijadikan alasan utama mereka mau tinggal disana. Terlebih lagi para penghuni kost juga digambarkan sebagai orang-orang yang penakut. Kalau mereka memang calon tumbal yang sudah sejak awal “ditarik” untuk tinggal disana, mengapa tidak semua melainkan hanya tiga orang penghuni saja yang tewas.

Setting serta ilustrasi yang telah mendukung sayangnya tidak mampu diimbangi oleh unsur-unsur ketegangan yang dibangun. Ketegangan justru menurun drastis ketika sang pemilik rumah muncul menjelaskan semuanya; kucing-kucingan antara Sam dengan Kuntilanak yang ingin keluar lewat cermin juga terlihat tampak konyol; juga tidak jelas apa yang selama ini merasuki Sam padahal Kuntilanak masih ada dalam “cermin”. Untuk film bertema horor, Kuntilanak relatif tidak menakutkan dan mungkin akan lebih pas jika disebut sebagai film misteri. Sekali lagi usaha untuk menggali potensi mahluk gaib yang telah membumi pada masyarakat kita perlu diacungi jempol. Setidaknya sejauh ini Kuntilanak boleh dibilang secara tema dan estetik lebih baik dan matang daripada film-film horor kita sebelumnya.

Goegi Poerwono

No comments: