The Brave One,

Bicara Tentang Keadilan dan Kebenaran


The Brave One (2007)
Studio: Village Roadshow Pictures / Silver Pictures
Distributor: Warner Bros.
Sutradara: Neil Jordan
Produser: Susan Downey / Joel Silver
Penulis Naskah: Roderick Taylor / Bruce A. Taylor / Cynthia Mort
Pemain: Jodie Foster / Terence Howard
Ilustrasi Musik: Dario Marianelli
Sinematografi: Philippe Rousselot
Editing: Tony Lawson
Durasi: 122 menit

Erica Bain (Foster) adalah seorang penyiar radio di kota New York yang hidup bahagia bersama David, tunangannya. Suatu malam ketika mereka berdua tengah bersantai di Central Park, mereka dihadang tiga orang preman yang berniat merampok mereka. David melawan dan mereka berdua dianiaya. David tewas namun Erica selamat. Setelah fisiknya pulih namun tidak demikian mentalnya, ia mengalami trauma serta rasa takut yang berlebihan. Demi rasa nyaman, Erica bahkan membeli senjata api secara ilegal. Suatu ketika Erica terpaksa menembak seorang perampok toko untuk membela dirinya. Di luar dugaan setelah aksinya ini Erica justru menemukan kepuasan batin yang mampu menutup trauma dan rasa takutnya. Erica kini berubah menjadi sosok “penyapu jalanan” yang bekerja di luar hukum. Detektif Mercer (Howard) yang juga fans Erica adalah polisi yang menyelidiki kasus ini.

Bicara plot “balas dendam” mengingatkan beberapa film aksi kriminal populer, seperti seri Dirty Harry hingga Death Wish. Bedanya kali ini sosok tokoh “penegak hukum” adalah seorang wanita. Berbeda pula dengan plot film-film sejenis, The Brave One sama sekali tidak menekankan pada unsur aksi namun justru unsur dramatik. Hal yang menarik justru sisi dramatik lebih fokus pada tekanan psikologis yang dihadapi dua tokoh utamanya. Sineas mampu membangun sisi dramatik plotnya secara sabar namun semakin dalam. Mercer adalah sosok polisi ideal yang frustasi dengan para kriminal yang selalu lolos dari jerat hukum. Sebaliknya Erica adalah sosok warga normal yang berubah menjadi sosok “penjagal” para kriminal setelah menjadi korban kejahatan. Erica muncul seolah sebagai sosok “ideal” menggantikan Mercer. Mereka adalah sosok yang bertolak belakang namun saling membutuhkan. Cerita juga ditutup dengan ending mengejutkan yang menutup manis filmnya.

Plot yang menekankan sisi psikologis mendalam seperti ini jelas membutuhkan kekuatan akting yang prima. Foster dan Howard masing-masing mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Terutama Foster mampu bermain istimewa sebagai Erica Bain yang traumatik, gelisah, dan selalu diliputi ketakutan namun disaat bersamaan juga mampu menjadi sosok pemberani yang penuh dendam dan kebencian. Kita semua tahu apa yang dilakukan Erica adalah salah namun Foster mampu membalikkan semuanya sehingga karakter ini justru mendapat simpati penuh dari penonton. Sementara Terence Howard seperti biasa selalu bermain prima dalam setiap filmnya sekalipun perannya kini tidak sedominan Foster. Baik Howard dan Foster mampu membangun “chemistry” unik antara penggemar dan fans juga antara sosok penegak hukum dan sosok “kriminal”. Sangat disayangkan peran sulit seperti ini mestinya sangat layak meraih nominasi Oscar.

The Brave One mencoba memaknai kebenaran yang kadang tipis batasnya antara kesalahan. Secara hukum dan moral apa yang dilakukan Erica adalah salah namun bukan salah dan benar yang menjadi isu disini. Namun adalah mengapa ia melakukan itu semua. Sineas mampu menggambarkannya dengan sangat rinci dan cermat. Kesalahan bisa kita timpakan ke Erica (manusiawi) ataukah sistem hukum yang tidak bekerja secara optimal. Keadilan kadang tidak selalu sama dengan kebenaran.

Himawan Pratista

1 comment:

Hendry said...

Setuju sama kata-kata akhirnya. Keadilan tidak selalu sama dengan kebenaran, and thats waht Erica knows. Karakter Erica di sini memang berani tapi fragile, tapi menurut saya Foster yg cukup sering berperan sebagai "wanita pemberani" masih hampir sama performanya dalam film-film terdahulu yg menemptkannya sebagai wanita pemberani, seperti di Panic Room atau Flightplan.