Alice in Wonderland,

Kali Ini Bukan Film Anak-Anak


Alice in Wonderland adalah film fantasi petualangan garapan teranyar Tim Burton. Film ini merupakan lanjutan dari kisah novel klasik anak-anak, Alice’s Adventure in Wonderland karya Lewiss Caroll. Film ini dirilis dalam format 3D dan 2D yang merupakan pertama kali bagi Burton. Film berbujet $150 juta ini dibintangi kolaborator tetap Burton yakni Johnny Depp serta Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, serta aktris muda pendatang baru, Mia Wasikowska sebagai Alice.

Alice Kingsley (Wasikowska) adalah seorang gadis remaja 19 tahun yang masih ragu dalam mengambil sikap. Suatu ketika di sebuah pesta, Alice melihat seekor kelinci yang menggunakan baju dan membawa jam saku. Saat tunangan Alice akan meminangnya, di luar dugaan Alice malah mengikuti kemana sang kelinci pergi. Alice lalu jatuh ke dalam lubang kelinci dan masuk ke sebuah dunia bernama Wonderland. Alice bertemu beberapa karakter aneh seperti Mad Hatter (Depp), Chesire Cat, Caterpillar, serta lainya. Misi Alice adalah membantu White Queen (Hathaway) dari teror Jabberwocky milik Red Queen (Carter) untuk membawa kedamaian di Wonderland.

Kembali Burton mengubah cerita aslinya menjadi versinya sendiri. Versi Burton ini bisa dibilang lanjutan dari kisah aslinya yang merupakan cerita anak-anak. Cerita filmnya jauh dari cerita anak-anak yang ringan dan sederhana, namun cenderung suram dan membingungkan. Satu adegan dengan adegan lain terkesan terpisah dan dipaksakan, tidak menyatu satu sama lain. Alur plotnya pun cenderung mengulur waktu dengan penyelesaian masalah yang terlalu mudah. Kunci cerita sebenarnya adalah tokoh Alice namun beberapa karakter “tak penting”, Mad Hatter misalnya, malah ditonjolkan (kita sudah tahu mengapa). Hal ini mengakibatkan hubungan batin antara Alice dengan Wonderland menjadi lemah. Tak ada motif yang kuat mengapa Alice harus mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah dunia yang sudah ia lupakan.

Alur plotnya yang selalu berpindah-pindah di alam fantasi Wonderland memungkinkan Burton bermain-main dengan sentuhan artistiknya terutama unsur setting. Seperti lazimnya film-film Burton, unsur setting, kostum, dan make-up, semua pencapaiannya luar biasa. Setting-nya memang istimewa namun entah mengapa tampak terlalu artifisial untuk ukuran film-film Burton sebelumnya. Boleh jadi ini karena tuntutan format 3D. Seperti ketika Alice jatuh ke dalam lubang kelinci tampak sekali Burton berlama-lama dengan adegan ini, satu hal yang rasanya tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Setidaknya Burton masih tetap konsisten menjaga sentuhan ekspresionis pada filmnya kali ini.

Dari sisi pemain, selain Wasikowska, Depp dan Carter adalah yang paling menonjol. Sementara Depp bermain layaknya “Willy Wonka”, Carter bermain lugas sebagai Red Queen yang nyaris berteriak setiap saat. Ilustrasi musik Danny Elfman kali ini juga kurang memiliki “jiwa” seperti film-film Burton sebelumnya. Klimaks filmnya yang penuh sajian visual menawan tampak hambar karena ending-nya sangat mudah kita duga. Versi adaptasi Burton kali ini bukan terbilang gagal, tetapi memang gaya sang sineas seperti ini. Burton bisa dibilang kali ini kebablasan. Setidaknya seperti halnya Chocolate Factory yang masih bisa dinikmati penonton anak-anak, Alice in Wonderland mestinya juga sama karena spirit filmnya adalah untuk penonton anak-anak. Ibaratnya, Burton mencoba untuk membuat makanan orang dewasa dari bahan makanan bayi. It just won’t works!

Himawan Pratista

No comments: