Perempuan Berkalung Sorban

Hanya Film Religi Biasa

Perempuan Berkalung Sorban adalah film drama religi besutan sutradara Hanung Bramantyo yang didasarkan atas novel berjudul sama karya Abidah Elkhalieqy. Film ini dibintangi oleh Revalina S. Temat, Oka Antara, Reza Rahadian, Joshua Pandelaky, Widyawati, Francine Roosenda, dan Cici Tegal. Pada awal rilisnya, film ini memicu kontroversi terkait kekerasan yang dimunculkan dalam filmnya.

Cerita berkutat seputar kehidupan seorang gadis muda, Anisa (Revalina) di lingkungan santri yang menggunakan norma agama untuk mengekang kebebasan wanita. Dalam perkembangan, Anisa dipaksa menikah dengan Samsudin (Reza Rahadian) yang teryata malah memperlakukan Anisa layaknya binatang. Anisa lalu difitnah berzina dengan seorang pemuda bernama, Khudori (Oka Antara). Ia akhirnya bercerai dengan suaminya dan menikah dengan Khudori. Cerita lalu berkembang pada usaha Anisa untuk memperjuangkan kebebasan para santri wanita di pesantren Al Huda.

Tidak ubahnya film-film religi kita yang kini marak, keseluruhan cerita layaknya seri sinetron, terlalu datar dan mudah untuk ditebak. Banyak adegan tampak dipaksakan dan seringkali logika dikesampingkan sehingga terlihat mengada-ada. Satu contoh ketika adegan pemilihan ketua kelas. Setelah Anisa dinyatakan menang secara demokratis mendadak keputusan dianulir dengan argumen Anisa adalah seorang wanita. Jika memang hanya laki-laki saja yang boleh jadi pemimpin, mengapa sejak awal Anisa dicalonkan?? Ending cerita juga terlihat dipaksakan. Agak janggal melihat para kiai yang telah mumpuni ilmu agamanya bisa dengan mudahnya dipengaruhi oleh omongan Anisa yang sebelumnya selalu dianggap angin lalu oleh mereka. Lalu masalah hutang kakak Anisa juga masih belum jelas? Lalu bagaimana nasib pesantren? Setelah sadar mengapa pula kakak Anisa masih memilih jalan kekerasan (memukuli Samsudin) untuk menyelesaikan masalah??

Para santri lelaki secara umum digambarkan sebagai sosok ortodoks yang keras seolah tanpa memiliki rasa welas asih terhadap sesama. Benar dan salah secara gamblang hanya diukur semata-mata melalui norma-norma agama. Unsur-unsur kekerasan yang diperlihatkan dalam filmnya juga tampak berlebihan sehingga tidak heran jika film ini mengundang banyak kontroversi dari kaum ulama di negeri ini. Seperti contohnya, kain sorban yang digunakan sebagai alat untuk melakukan tindak kekerasan juga ketika Samsudin memaksakan Anisa untuk berhubungan badan saat istrinya datang bulan. Walau semua bisa saja terjadi namun penggambaran dalam filmnya memang sedikit berlebihan.

Dari segi estetik pencapaian paling menonjol adalah visualisasi panorama alam yang indah. Narasi berbentuk puisi seperti di awal film sebenarnya cukup baik mendukung mood filmnya namun sayang setelahnya tidak lagi digunakan. Pemilihan atau rancangan setting filmnya juga sangat buruk sehingga tidak mampu memberi kesan waktu yang menjadi latar cerita filmnya. Para pemain yang sering menggunakan dialek “kota” jelas tidak mendukung latar pedesaan dalam cerita filmnya. Pesan yang ingin disampaikan adalah kaum perempuan harus memperjuangkan kebebasannya tanpa harus selalu bergantung pada kaum laki-laki. Setiap orang termasuk juga film ini berhak atas kebebasan tapi bukan berarti tanpa batasan. Lalu tolak ukur apa yang bisa menjadi batasan kebebasan? Norma agama adalah salah satunya.

Febrian Andhika
Raja Reymon

2 comments:

Anonymous said...

Benernya ni film berlatar daerah mana? Katanya gontor kan di ponorogo tapi tdk ada laut.
Di sebut jombang, tp tdk ad laut.
Ngawi jg sama tdk ada laut.
Latar daerah mana seh ga jelas

aldian mei said...

film ini sebenarnya bagus, maknanya mendalam. yang belum nonton, coba tonton dulu deh di http://www.gostrim.com karena disitu kalo mau nonton gak perlu download dulu :D