Keranjang Keluh Penikmat Film Tanah Air


Sudah berulang kali saya mendengar bahwa sinema merupakan salah satu wujud representasi budaya suatu bangsa, ketika film-film luar menampakkan citranya pada kekuatan genre tertentu, seperti pada perfilman Asia, film hongkong yang terkenal akan film aksinya, film Jepang yang populer sekali dengan film Anime nya, film Korea yang tak kalah dengan drama televisi berserinya yang menyajikan drama penuh air mata, atau film India yang terkenal akan koreografi tari dalam hampir tiap filmnya, sampai negara Asia tenggara macam Thailand pun mentereng dengan film-film horror-nya.

Nah marilah kita ijinkan saya meminta Anda untuk berpikir jenak tentang pencapaian sinema kita. Bukan lagi membicarakan tentang unsur keseragaman tema yang ada di pasaran dan terpolanya trend tematik yang ada, dari cinta remaja, horror, religi, hingga komedi atas nama syahwat, namun tentang rasionalitas akan efek tersebut di atas, penonton kita yang selalu disuguhi tema serupa (lagi-lagi atas nama keinginan pasar). Tidak sedikit uang yang dikeluarkan demi membuat sebuah film, bisa dikatakan hal ini adalah sebuah pertaruhan. Tidak heran mengapa akhirnya seorang produser mencari jalan aman dengan mengikuti tren pasar, sayangnya mereka tidak sadar dengan hukum gossen, yaitu adanya titik jenuh ketika konsumen selalu disuapi film-film bertema seragam (namun tidak pula memberikan peningkatan kualitas).

Sementara itu film-film Hollywood bukan lagi sebagai pemain tunggal yang membanjiri pasar perfilman tanah air sehingga penikmat film kini dapat dengan mudah menikmati film-film Asia yang beragam dengan pencapaian mutu yang baik. Sadarkah mereka (pembuat film negeri kita) dengan fenomena melimpahnya film-film non Hollywood yang mau tak mau kini menjadi standar perbandingan bagi penikmat film tanah air? Oke lah jika dahulu mereka akan berpaling untuk membandingkan film Indonesia dengan film-film Hollywood tapi kini membandingkan film-film kita dengan film-film negara macam Thailand saja kita sudah ketinggalan jauh.

"Kenapa ya Mas, film Indonesia nggak sebagus pencapaian film-film Thailand? Yang notabene masih sama-sama negara berkembang?" Pertanyaan ini sempat dilontarkan penikmat film yang masih duduk di kelas 3 SMP. "Menurut kamu?" Saya balik bertanya. "Film Indonesia ceritanya gampang ditebak, pemainnya juga gak maksimal ketika berperan, jadi kita seperti nonton film serius tapi malah jatuhnya ngelucu," itulah ungkapan polos anak SMP yang bersekolah di Jakarta, sehabis terhibur dengan film laga Thailand yang baru saja ia tonton berjudul Chocolate. Ya, Film Indonesia memang lemah sekali dalam cerita, unsur plot maupun sub plot yang dibangun terlalu dangkal. Penggalian emosi pemain pun tiarap ala kadarnya, artifisial.

Kalau sudah begini, kami (penikmat film) sampai kapan harus terus berharap film Indonesia bakal mentereng dalam kancah perfilman Internasional? Bisa bangga jika salah satu film kita dibicarakan dalam obrolan santai ketika traveling ke negara-negara lain? Saya jadi ingat pengalaman sewaktu traveling ke Jerman dimana saya menjumpai sekelompok penikmat film yang tengah membicarakan film-film Asia, dengan semangatnya membicarakan film-film Korea berjudul Old Boy dengan antusiasme tak terkira, hingga beberapa yang lain dengan bangganya mengatakan bahwa ia berada dalam barisan pengagum Wong Kar Wai. Anda bisa bayangkan jika ada salah satu saja film Indonesia yang "unforgotten" dalam tiap bahasan sinema Asia? Bangga sekali bukan?.

"Film Indonesia itu kurang Fight!", itu salah satu komentar ringan seorang kawan dalam percakapan di sebuah angkringan sudut kota Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa film kita dibuat ala kadarnya, asal jadi, dan terburu-buru. Tanpa mengindahkan kinerja dari Kru film produksi, bisa diamini jika film kita memang kurang "berdarah-darah" mewujudkan film atas nama masterpiece bukan atas nama asal film tayang. Produser film fiksi Parama Wirasmo menyatakan sesuatu yang valid mengenai film perdana dari rumah produksinya Cinesurya Production, ketika film fiksi yang merupakan film dengan tema psikologi thriller melawan arus tren saat itu, baginya lebih baik membuat film yang Idealis (sesuai keinginan atas apa yang ingin film maker apresiasikan) ketimbang membuat film yang mengikuti selera pasar namun tidak menjanjikan pasti akan box office. "Lebih baik membuat film apa yang kami mau, atas nama film bermutu" pungkasnya. Yang kemudian film tersebut menjadi film terbaik sekaligus penyutradaraan terbaik (mouly Surya) pada FFI 2008.

Saya salut sekali dengan film maker Korea Lee Man-hee ketika tengah menyelesaikan editing akhir untuk filmnya ia di vonis mengidap kerusakan liver yang berat sampai ia batuk darah dan kolaps saat menyelesaikan film akhirnya, hingga ia memohon pada dokter yang merawatnya agar ia bisa terus hidup sampai ia menyelesaikan filmnya. Sampai saat ini masyarakat Korea menyebutnya sebagai pembuat film patriotik yang paling diingat sepanjang sejarah. (Lee meninggal di usia 45, pada tahun 1975).

Jika film maker kita tidak berkaca pada banyaknya kritikan ataupun keluhan-keluhan yang datang dari para penikmat film, dan tetap saja memproduksi film tanpa mengindahkan kualitas, maka bisa dipastikan dalam kurun waktu yang tak lebih dari tahunan, film kita akan kehilangan momentum untuk menjadi raja di negara sendiri, penikmat film akan meninggalkan film-film kita. Sungguh.

Ini bukan hanya keranjang penuh keluhan dari para pecinta film untuk kemajuan perfilman kita, ini pun bukan hanya keberatan tanpa dasar yang ingin disampaikan, namun ini lebih memaknai sesuatu yang kami (penikmat film) ingin titipkan kepada pembuat film tanah air, tentang mimpi-mimpi kami melihat film Indonesia ada di sana, di tempat orang menyebutnya impian besar insan pecinta film, dengan simbol patung emas bernama Oscar. Anda yang nanti kelak ada di sana, dan kami yang akan menyebutnya Pahlawan Nasional. Maka untuk sekarang ini hanya keranjang keluh yang bisa kami berikan. Untuk harapan film Indonesia yang gemilang.

Andrei Budiman

No comments: