Bioskop Jogja, Dari Empire 21 Hingga Empire XXI

Mungkin tidak banyak kawula muda Jogja kini yang tahu jika di lokasi bangunan Empire XXI dulunya pernah berdiri bangunan bioskop Empire 21. Saat ini di Kota Jogja terdapat dua bioskop besar namun jika kita kembali ke era silam, sebenarnya jumlahnya cukup banyak. Sejak dekade 60-an hingga 70-an di Jogja telah berdiri bioskop-bioskop ternama, sebut saja Permata (Pakualaman), Indra (depan Pasar Beringharjo), Senopati (sekarang Taman Pintar), Rahayu (Jl. Solo), Ratih (Jl. Mangkubumi), Soboharsono (Alun-alun Utara), Arjuna (Samsat), dan lain-lainnya. Pada dekade 80-an di Jogja mulai dibangun bioskop-bioskop besar yang menggunakan fasilitas pendingin ruangan serta tata suara mutakhir, seperti bioskop Mataram, President (sekarang Hotel Novotel), Regent (Jl. Solo), Mitra, (Jl. Solo), hingga Galaxy (Jl. Magelang). Regent tercatat sebagai cineplex pertama di Jogja yang memiliki 4 buah studio.

Perkembangan bioskop di Kota Jogja mulai berubah ketika di awal 90-an dibuka bioskop Empire 21. Bioskop ini tercatat sebagai bioskop jaringan 21 pertama di Jogja yang memiliki total 8 studio. Melalui konsep yang lebih modern, jumlah studio yang banyak, tata suara yang oke, serta memutar film-film yang relatif baru, Empire 21 dalam waktu singkat menjadi tempat menonton kawula muda Jogja paling populer selama hampir satu dekade ke depan. Bioskop ini pada masanya juga mematok harga tiket paling mahal yakni, sekitar 4000 perak! Dalam perkembangannya beberapa bioskop lama pun diambil-alih oleh Grup 21, seperti Regent, Ratih, dan Galaxy. Sekalipun terdapat tiga bioskop 21 lainnya namun tetap saja Empire 21 adalah tempat menonton yang paling diminati pada saat itu. Bioskop Mataram pada era ini juga menjadi satu-satunya bioskop non 21 yang memutar film-film relatif baru. Sementara bioskop-bioskop lawas seperti Permata, Indra, Senopati, Widya, dan lainnya jelas kalah bersaing dan lebih memilih memutar film-film kelas dua atau film-film lama. Beberapa di antara bioskop-bioskop lawas tersebut bahkan juga banyak yang menutup usahanya.

Bicara soal film-film yang diputar, di awal 90-an bioskop-bioskop Jogja sedikit terlambat (selisih beberapa minggu) dalam merilis film-film baru dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta dan Surabaya. Namun sejak tahun 1996 hingga tahun 1998 (sebelum krisis moneter) bioskop-bioskop di Jogja mencapai puncak kejayaannya dengan merilis film-film baru yang sama waktu rilisnya dengan bioskop di kota-kota besar lainnya, sebut saja film-film laris macam The Lost World, The Independence Day, hingga Titanic. Hampir setiap malam bioskop-bioskop tersebut nyaris tidak pernah sepi penonton. Midnight Show (tengah malam) di akhir pekan menjadi favorit kawula muda karena pada waktu pemutaran inilah film-film baru biasanya pertama kali diputar. Tradisi Old & New (malam tahun baru) juga selalu ramai penonton karena bioskop biasanya memutar film-film baru hingga dua pemutaran sekaligus.

Krisis moneter di tahun 1997 rupanya berdampak besar bagi perkembangan bioskop-bioskop di Jogja. Film-film baru pun mulai jarang diputar. Akibatnya, penonton mulai sepi dan lebih memilih menonton VCD bajakan yang saat itu mulai marak. Satu demi satu bioskop-bioskop di Jogja mulai rontok. Bioskop-bioskop 21 seperti Regent, Ratih, dan Galaxy hanya bertahan beberapa tahun sebelum akhirnya menutup usaha, kecuali Regent yang terbakar. Bioskop-bioskop kelas dua, seperti Widya, Rahayu, dan Senopati pun akhirnya tutup. Empire 21 masih mampu bertahan dengan strategi merilis ulang film-film lama namun akhirnya bangunan bioskop ini pun terbakar pada tahun 1999 dan dibongkar rata dengan tanah. Bioskop Mataram setelahnya menjadi satu-satunya bioskop kelas satu di Jogja yang mampu bertahan hingga dekade mendatang.

Setelah tidak adanya Empire 21, praktis anak-anak muda Jogja kehilangan tempat menonton yang memadai. Boleh dibilang kegiatan menonton di Kota Jogja “mati suri” selama lebih dari separuh dekade. Bioskop Mataram tidak pernah lagi merilis film-film baru, namun di awal milenium baru, sukses gila-gilaan dicapai melalui film-film produksi dalam negri yang akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Film-film fenomenal seperti Jelangkung dan Ada Apa dengan Cinta selama beberapa bulan mampu menyedot ribuan penonton seolah tanpa henti masuk ke bioskop ini. Sayangnya, sukses film-film ini tidak diikuti dengan pengembangan dan peningkatan sarana dan fasilitas bioskop ini, seperti tata suara (masih stereo), bangku penonton, proyektor, dan lainnya sehingga menjadikan bioskop ini layaknya bioskop kelas dua. Walaupun begitu setiap kali film-film Indonesia diputar, tetap saja bioskop ini nyaris selalu dibanjiri penonton. Bioskop Mataram baru pada tahun 2008 lalu berhenti beroperasi akibat bencana badai yang merusak bangunannya. Sementara bioskop-bioskop kelas dua lainnya, seperti Permata dan Indra, praktis tidak mampu bersaing namun masih bertahan bahkan hingga kini.

Kondisi mulai berubah ketika Studio 21 di Ambarukmo Plaza akhirnya dibuka pada tahun 2006. Bioskop cineplex yang terletak di lantai paling atas ini memiliki lima studio dengan kapasitas penonton yang cukup besar. Meskipun tata suara hanya standar Dolby Digital, namun tergolong lumayan ketimbang tidak sama sekali. Film-film baru baik barat maupun lokal yang dirilis pun relatif sama dengan kota-kota besar lainnya. Uniknya, film-film lokal rupanya lebih banyak diminati ketimbang film-film asing. Penonton era lama satu dekade lalu, bisa jadi kini hanya tersisa beberapa persen saja. Penonton kini didominasi oleh anak-anak remaja yang tumbuh di saat film-film kita tengah panas-panasnya. Tak heran jika remaja dan mahasiswa Jogja lebih mengandrungi film-film kita ketimbang film-film asing. Satu hal yang positif tentunya bagi perkembangan industri film Indonesia.



Pada awal tahun 2009 ini, satu bioskop lagi dibuka di Jogja, yakni Empire XXI yang dibangun di lokasi yang sama dengan Empire 21. Bentuk massa bangunannya pun nyaris sama dengan bangunan Empire 21 dulu. Seluruh bangunan kali ini sepenuhnya diperuntukkan untuk bioskop, tidak seperti bangunan Empire 21 pada waktu itu yang merupakan bangunan berlantai dua, yakni Hero Supermarket di lantai bawah dan cineplex di lantai dua. Jumlah studio kali ini justru lebih sedikit daripada Empire 21, yakni hanya 6 studio. Seperti bioskop-bioskop XXI di kota-kota besar lainnya, Empire XXI juga menawarkan fasilitas yang lebih mewah, eksklusif, serta nyaman ketimbang bioskop 21. Tata suara sayangnya masih saja standar Dolby Digital, dan belum menggunakan tata suara DTS yang tentunya jauh lebih memadai. Dari film-film yang diputar sejauh ini, sepertinya Empire XXI lebih memilih merilis film-film barat ketimbang film-film lokal.

Dengan munculnya bioskop-bioskop tersebut rasanya dalam waktu dekat bakal mampu mengembalikan budaya menonton masyarakat Jogja yang kuat seperti pada pertengahan dekade 90-an. Kita tunggu saja apakah jaringan bioskop Blitz akan hadir pula di Jogja? Industri film kita juga harus semakin berbenah mengingat penonton, penonton Jogja khususnya, makin lama makin dewasa dan cerdas dalam memilih film yang akan mereka tonton.

Himawan Pratista

2 comments:

Anonymous said...

Sekedar ingin mengoreksi catatan tulisan di blog Montana Jogjakarta...http://montase.blogspot.com/2008/12/bioskop-jogja-dari-empire-21-hingga.html...pada kalimat...>>> Regent tercatat sebagai cineplex pertama di Jogja yang memiliki 4 buah studio. >>> Seingat saya juga berdasar pengalaman sbg penonton film di jogjakarta dan juga dari dokumentasi iklan film. Bioskop pertama di Jogja yang berbentuk cineplex adalah bioskop Ratih..yakni Bioskop Ratih 1 dan bioskop Ratih 2 yang sudah ada sejak akhir tahun 1990-an. Bioskop Empire21 lahir setelah bioskop Ratih, yakni tahun 1991. BIoskop Regent bukan tercatat sebagai cineplex pertama di jogja yang lahir sebelum bioskop Empire21. Bioskop Regent21 sebelum bergabung dengan grup bioskop21 bernama bioskop WIJAYA. Dulu ada monopoli peredaran film yg dilakukan oleh grup bioskop21..kalo ingin mendapatkan jatah film baru dari distributor film ...maka bioskop tsb harus merehab bentuk fisik menjadi cineplex , maka mau tidak mau bioskop Wijaya harus bergabung dengan kelompok bioskop21 untuk mendapatkan jatah film baru dan merubah nama bioskopnya menjadi bioskop Regent21. Demikian sedikit koreksi saya atas tulisan tentang BIoskop JOgja.

pengasuh blog montase said...

ok terima kasih sekali koreksinya... penulis artikel ini tinggal di jogja sejak awal 90-an.. sehingga apa yang terjadi pada perkembangan bioskop sebelumnya membutuhkan info dari beberapa narasumber yang kompeten (mereka penonton film setia sejak akhir 70-an).. bisa jadi narasumber2 kami keliru atau lupa dalam memberikan info.. kami akan cek ulang data-data ini kembali... Namun setidaknya info Anda benar tentang dominasi 21.. seperti juga di kota-kota lain, bioskop2 non 21 harus merubah wajah mereka lebih modern jika ingin bergabung dan mendapat jatah film baru.. ok sekali lagi terima kasih atas koreksinya..