Novel Versus Film Ayat-Ayat Cinta



Film layar lebar Ayat-Ayat Cinta garapan Hanung Bramantyo yang disadur dari novel yg berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy ini cukup fenomenal di Indonesia, terbukti dengan jumlah tiket yg telah terjual dan kabarnya telah melebihi penjualan tiket film yang pernah ada di Tanah Air. Hal ini juga terbukti dengan panjangnya antrian penonton di sejumlah bioskop, bahkan banyak bioskop membuka lebih dari satu studio untuk memutar film ini.

Film Ayat-ayat Cinta menjadi fenomenal juga karena terjadinya pro dan kontra di kalangan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, film ini meledak karena novel Ayat-ayat Cinta sendiri telah mencapai best seller dipasaran. Masyarakat yang telah membaca dan mencintai cerita dan tokoh-tokoh di dalam novel tersebut akan menuntut penggambaran yang sama dengan apa yang mereka baca dalam novelnya.

Penulis pernah melakukan riset kecil-kecilan tentang “reaksi penonton film Ayat-ayat Cinta”. Penulis membagin penonton dalam 2 kelompok, yaitu: yang telah membaca novel Ayat-ayat Cinta dan yang belum membaca novel tersebut. Hampir 90% yang telah membaca menyatakan ketidakpuasaannya terhadap film Ayat-ayat Cinta baik dalam hal cerita, lokasi, ataupun pemainnya. Tetapi penonton yang belum membaca novelnya hampir 80% menyatakan puas terhadap film ini.


Tanpa mengesampingkan ataupun memojokkan film Ayat-ayat Cinta, penulis dalam hal ini sebagai orang yang telah membaca maupun menonton berpendapat tidak puas dengan film Ayat-ayat Cinta, baik dari segi plot, lokasi, cerita, maupun dari sisi pencitraan tokoh. Plot awal filmnya sangat cepat dan tidak detail. Penulis yakin para penonton film yang belum membaca novelnya tidak begitu merasakan dan mengerti bagaimana awal mula cinta tumbuh di hati Maria, Nurul, Aisyah, dan Noura terhadap Fahri. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang membuat para wanita-wanita itu jatuh cinta kepada Fahri yang tidak diceritakan di dalam film ini.

Dari segi lokasi, karena keterbatasan dana, pengambilan gambar film Ayat-ayat Cinta diambil di India, Jakarta, dan Semarang, bukan di Kairo, Mesir seperti yang ditulis dalam novelnya Namun demikian menurut penulis ada beberapa penggambaran yang sangat berbeda dengan cerita dalam novelnya, seperti lingkungan flat tempat tinggal pelajar Indonesia dan rumah keluarga Maria. Dalam novel, tempat tinggal mereka berada di sebuah padang pasir, ketika mereka keluar flat mereka akan langsung menemui gurun pasir yang sangat panas, sedangkan di dalam film digambarkan sebagai lingkungan yang padat penduduk, bahkan di depan rumah mereka terdapat pasar tradisional. Apartemen Aisyah di dalam novel digambarkan menghadap ke sungai nil, apabila malam hari mereka bisa langsung melihat indahnya sungai nil yang dihiasi oleh lampu-lampu yang sangat cantik, tetapi di dalam filmnya hanya diperlihatkan sebuah kolam.

Dari segi cerita, penulis melihat banyak bagian cerita dan tokoh yang hilang dari novelnya, dan banyak sekali cerita yang diubah atau ditambah di dalam filmnya. Contoh cerita yang hilang adalah : Fahri jatuh sakit karena kepanasan dan dehidrasi, para pelajar Indonesia merayakan kesuksesan Fahri dengan makan-makan di atas flat mereka, Fahri memberi kado ulang tahun kepada ibu Maria dan sebagai ucapan terima kasih mereka di ajak makan malam oleh ibu Maria di restoran terkenal. Selain itu masih banyak cerita lain yang tidak di tampilkan di dalam film, namun penulis dapat memaklumi cerita-cerita tersebut dihilangkan mengingat keterbatasan durasi. Ada bagian yang paling penting yang membuat cerita ini menjadi romantis secara islami namun tidak ditampilkan di dalam film, yaitu kisah ketika Fahri dan Aisyah untuk pertama kali saling mengenal setelah menjadi suami istri dengan bersendagurau di balkon apartemen Aisyah, pada malam pertama mereka menikah, dan kisah ketika mereka berbulan madu. Penulis sangat menyayangkan bagian cerita ini tidak di tampilkan di dalam film.

Selain itu juga banyak terjadi perubahan cerita di dalam film, salah satunya adalah peristiwa yang mengakibatkan Maria jatuh koma. Di dalam film Maria koma akibat ditabrak mobil, sedangkan dalam cerita novelnya, Maria koma akibat sakit psikologis mengetahui Fahri telah menikah. Penulis sangat merasakan penambahan aura poligami yang sangat kuat di sepanjang film ini. Mungkin karena isu poligami masih sangat konrtroversial di Indonesia, maka Hanung Bramantyo sengaja menitikberatkan cerita pada sisi poligami, padahal di dalam novel tidak ada bagian yang menceritakan Fahri, Aisyah, dan Maria hidup dalam satu atap, bahkan Aisyah sempat pergi dari apertemennya karena tidak kuat dengan kehidupan poligaminya.

Dari sisi pencitraan tokoh, penulis merasa kecewa dengan tokoh Nurul, Aisyah, dan Fahri. Di dalam novel Nurul digambarkan sebagai sosok yang sangat agamais, anak pemimpin salah satu pondok pesantren, dan tidak pernah diceritakan melepas jilbabnya, namun di dalam film Nurul sempat melepas jilbab ketika mengetahui Fahri menikah. Sewaktu menonton film ini penulis menangkap kesan Aisyah adalah sosok pencemburu, sedangkan sewaktu membaca novel penulis menangkap kesan Aisyah adalah sosok yang tidak pencemburu, besar hati, dan ikhlas. Sementara itu, Fahri di dalam novel digambarkan sebagai sosok yang sangat agamais (bahkan hampir tidak pernah bertatapan dengan orang yang bukan muhrim atau lawan jenis), aktif, dan tegas. Di dalam film Fahri sering menatap lawan-lawan bicaranya yang bukan muhrim, pasif, dan seringkali binggung dalam mengambil keputusan.

Terlepas dari semua yang penulis sampaikan di atas, film Ayat-ayat Cinta juga patut diacungi jempol. Film ini merupakan salah satu film dengan tata sinematografi terbaik dari semua film yang pernah diproduksi di Indonesia belakangan ini. Boleh dibilang,film Ayat-ayat Cinta adalah masterpiece Hanung Bramantyo sebagai seorang sineas. Soundtracknya juga sangat mendukung jalannya cerita, dan Carissa Putri (Maria) sangat menjiwai perannya dengan aktingnya yang terlihat natural. Penulis juga salut dengan Saskia Adya Mecca (Noura) yang berani keluar dari imagenya selama ini dengan mengambil peran antagonis di film Ayat-ayat Cinta.

Agus

1 comment:

Maurice Martin said...

Novel dengan materi yang bagus, disusun dengan cerita yang pintar,terutama dalam hal keagamaan di ruang modernitas dibuat menjadi film roman picisan yang goblok. Tampaknya pengembang cerita ingin membuat tokoh dan cerita filmnya lebih humanis dari versi novel, tapi menjadi penodaan terhadap nilai yang ingin di sampaikan penulis novel. Film ini laris karena penonton terbuai roman yang lebih di jual film ini.