Lentera Merah

 Hantu Takut Hantu


Sutradara muda Hanung Bramantyo pada tahun 2006 ini kembali dengan karyanya yang memadukan tema remaja dengan horor. Film ini menceritakan suatu organisasi di suatu kampus bernama Lentera Merah yang telah dibentuk sejak lama dan untuk menjadi keanggotaannya harus melalui seleksi ketat. Diceritakan di dalam tubuh organisasi tersebut ternyata menyimpan suatu misteri pembunuhan yang dilakukan oleh para senior angkatan ‘65 terhadap seorang mahasiswi aktivis bernama Lisa yang terjadi pada tahun 1965. Entah kebetulan atau tidak para mahasiswa yang menjadi senior masa kini dengan calon anggota yang baru (angkatan 2006) semuanya memiliki kaitan dengan peristiwa pembunuhan tersebut termasuk diantaranya seorang gadis bernama Lisa. Dalam sebuah acara inisiasi bagi calon anggota baru,serentetan pembunuhan mulai menimpa satu demi satu para senior serta calon anggota Lentera Merah. Serangkaian pembunuhan tersebut ternyata belakangan diketahui dilakukan oleh arwah Lisa yang menuntut balas dendam atas kematiannya.

Dari sisi cerita tidak banyak dijumpai hal-hal yang baru kecuali latar belakang peristiwa pembunuhan yang terkait dengan gerakan mahasiswa pada tahun 1965 namun tampak beberapa kejangggalan-kejanggalan kecil yang dirasakan sangat menganggu. Apabila kita melihat perbedaan usia anggota Lentera Merah angkatan ‘65 yang sebagian merupakan orang tua dari para anggota angkatan 2006, rasanya perbedaan umur mereka terlalu jauh jika diasumsikan umur mereka sekitar 20 tahun. Hal tersebut bisa terjadi apabila para anggota Lentera Merah angkatan ‘65 semua menikah setidaknya di umur 40 tahun. Cerita film mungkin akan sedikit lebih masuk akal jika berlatar di tahun 90an. Juga apabila terjadi serangkaian peristiwa pembunuhan yang melibatkan suatu organisasi di lingkungan kampus apakah mungkin masih terdapat kegiatan yang berhubungan dengan organisasi tersebut tanpa ada penyelidikan lebih lanjut dari pihak kepolisian. Kita juga mungkin akan bertanya kenapa (arwah) Lisa bisa tampak di siang bolong serta takut pada bayangan hantu. Hanung mungkin bermaksud mengecoh penonton bahwa (arwah) Lisa bukanlah pembunuhnya namun terlihat menjadi sangat aneh dan janggal. Cerita mungkin akan lebih masuk akal bila seorang gadis kerasukan arwah Lisa.

Pada adegan pembuka ketika seorang laki-laki dibunuh, Hanung menggabungkan sebuah lagu dengan ilustrasi musik untuk menambah unsur ketegangan. Apakah efeknya tidak lebih dramatis jika alunan lagu Puspa Dewi dibiarkan dominan mengiringi adegan tersebut tanpa tambahan ilustrasi musik. Kejanggalan juga terlihat pada adegan ketika para calon anggota berusaha untuk mendapatkan lentera ke-2 dengan cara Menurunkan ember dengan mengisi air dari lantai atas dan anehnya hanya Lisa yang berani naik ke atas. Ketika Lisa naik ke lantai atas tak lama ia menjerit keras karena melihat sebuah bayangan namun anehnya rekan-rekannya tidak ada mendengarnya atau bergegas naik padahal jaraknya cukup dekat dan ruangan relatif terbuka. Adegan tersebut kemudian dipotong dengan adegan pembunuhan senior Lisa. Dengan asumsi Lisa sedang membunuh seniornya rekan-rekan Lisa yang sedang saling mengisi dan menurunkan ember anehnya tidak ada mencari tahu tentang keberadaan Lisa. Dan lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya secara fisik hantu kembali muncul dengan wajah yang cantik, muka pucat, rambut panjang serta menggunakan daster berwarna putih dengan gaya jalan yang terseret-seret.

Sebagai film bertema horor boleh dikatakan Lentera Merah sama sekali tidak menggigit selain alur ceritanya terlalu mudah untuk ditebak, Hanung juga tidak mampu membangun unsur-unsur ketegangan dalam setiap adegannya dengan baik. Sekalipun kita menonton film ini sendiri di tengah malam dengan mengunakan headphone dan lampu dimatikan namun tetap saja film ini sama sekali tidak menakutkan. Tema horor dan remaja saat ini memang sangat potensial untuk meraih pasar remaja yang selama ini didominasi oleh film asing. Namun seyogyanya pada pembuat film kita tidak melulu terjebak dalam tema horor sejenis yang nyaris mirip dengan gaya horor Jepang. Bangsa kita sendiri sebenarnya kaya akan legenda atau mitos tentang mahluk halus yang sangat potensial jika mampu digali lebih mendalam. Detil-detil adegan serta kejanggalan yang selama ini banyak menjadi kelemahan film-film kita seharusnya tidak perlu terjadi jika sebelumnya naskah atau skrip betul-betul ditangani oleh seorang penulis profesional. Semoga film-film kita khususnya film bertema horor dapat lebih berkembang di masa mendatang dengan kisah yang lebih orisinil. 


Bagus Pramutya

No comments: