Cinta Pertama

Hanya Mengejar Romantisme



Cinta Pertama bercerita tentang kisah cinta Alia (Bunga Citra Lestari) yang dituliskan dalam buku hariannya. Setelah hari pertunangannya dengan Abi mendadak Alia jatuh koma akibat stroke. Selama Alia koma, Abi membaca buku harian yang ditulis tunangannya sejak ia masih SMU. Abi lalu menemukan sesuatu yang selama ini disembunyikan Alia, terutama rahasia tentang teman dekatnya semasa SMU, Sunny, yang juga cinta pertamanya, cintanya yang ia pendam, serta cintanya yang hilang. Rentetan kilas balik Alia semasa SMU bergulir kembali hingga suatu saat Alia harus merelakan cintanya yang hilang untuk pergi dan hilang kembali untuk kedua kalinya. Penonton remaja yang sentimentil mungkin akan berkaca-kaca selama menyaksikan film ini. Pemilihan tema “cinta pertama” pada masa SMU juga pas mendukung penonton remaja untuk lebih jauh menyelami dan menghayati film ini. Cinta Pertama bisa jadi akan membawa penonton mengingat memori-memori manis semasa SMU, cinta pertama anda mungkin, serta ide-ide liar lainnya di seputar hal ini. Dari sisi cerita, film ini bisa dibilang cukup berhasil membidik penonton remaja sebagai sasarannya.

Selain cerita yang menguras air mata penontonnya, elemen-elemen lain seperti setting romantis, akting dan dialog penuh kata-kata mesra, alunan musik romantis, teknik slow-motion hingga pencahayaan temaram digunakan secara intensif untuk memperkuat karakter film ini. Latar indah penuh dengan warna-warni bunga, dedaunan, burung dara putih serta serbuk bunga (kapas) berterbangan ditiup angin. Penggunaan elemen air seperti hujan (gerimis), kebetulan merupakan satu hal yang disukai Alia juga ikut mendukung suasana romantis, haru, sedih, dan tragis. Nyaris semua adegan diambil dengan pergerakan kamera yang lambat dan seringkali dipadukan dengan teknik slow-motion untuk menambah kesan dramatik. Bahkan hingga semua pemain utamanya pun di-setel untuk berakting sedih, haru, datar, gerak tubuh lambat serta ekspresi kosong.

Satu hal yang sangat mengganggu adalah penggunaan elemen-elemen pendukung diatas yang seringkali terlalu berlebihan. Latar indah bak mimpi ala film drama romantis Korea muncul tidak hanya pada kilas balik “dunia mimpi” semasa SMU namun juga terjadi juga pada dunia kini. Seperti adegan pembicaraan antara Abi dan Rena, di halaman rumah sakit, suasananya nyaris sama “romantis”-nya dengan dialog antara Alia dengan Sunny ketika mereka berduaan. Ada pula beberapa adegan yang tidak terlalu berarti dimasukkan hanya untuk sekedar menambah unsur romantisme dan haru. Pergerakan kamera pun beberapa kali tampak agak berlebihan. Akting dan dialog yang tidak ber-“jiwa” dan kaku (seperti biasa) masih menjadi kelemahan utama. Namun satu hal yang perlu disyukuri setidaknya kali ini Nayato, sang sutradara, menggunakan ilustrasi musik asli yang penggarapannya diserahkan Addie MS. Lagu dan ilustrasi musiknya sendiri juga cukup pas mendukung suasana yang dibangun. Hal ini patut mendapatkan pujian tersendiri mengingat kesalahan yang dilakukan sutradara pada film sebelumnya.

Cinta pertama tidak memberikan pesan moral apapun bagi penontonnya selain romantisme belaka. Inti cerita pun tidak jauh berbeda dari roman-roman umumnya yang kisahnya memang pas untuk penonton remaja. Berbicara soal moral, justru sebaliknya kunci utama kesalahan film ini terletak pada Abi ketika ia mulai membaca buku harian Alia. Seluruh konflik cerita dipicu oleh tindakan ini. Apapun alasannya sebenarnya ia tidak berhak membaca buku harian tersebut. Dan jika memang harus dilakukan pun mestinya ada penjelasan moral untuk memperkuat hal tersebut, setidaknya untuk menjawab, “mengapa buku harian tersebut harus dibaca?”. Mengapa pula Abi harus menanggapi dengan sikap berlebihan. Bukankah mestinya cinta saja cukup untuk menjawabnya. “Tuh kan, berarti belum semuanya tentang aku kamu tau” kata Bunga pada Abi.

Adithya Nugroho & Audina Furi Nirukti