District 9, One of the Best Sci-Fi Movie…

16 Agustus 2009,

District 9 merupakan film fiksi-ilmiah garapan sineas debutan Neill Blonkamp dengan diproduseri sineas besar, Peter Jackson. Film independen ini konon diadaptasi dari film pendek yang juga diarahkan Neill berjudul Alive in Joburg. Tidak seperti film fiksi ilmiah lazimnya, District 9 menggunakan aktor-aktor non bintang, yakni Sharlto Copley, Jason Cope, dan Robert Hobbs. Juga tidak seperti film fiksi-ilmiah lazimnya, film ini hanya menghabiskan biaya produksi sebesar 30 juta dollar saja.

Alkisah sebuah pesawat luar angkasa asing berukuran raksasa jatuh dan melayang di atas kota Johannesburg, Afrika Selatan. Pesawat tersebut entah mengapa tidak lagi mampu beroperasi dan para penumpangnya yang diistilahkan prawn berjumlah jutaan diungsikan ke kota. Agar tidak menimbulkan masalah lanjutan bagi warga kota mereka dikumpulkan dalam sebuah kawasan terisolir yang diberi nama District 9. Pemerintah lokal juga mengontrak sebuah lembaga internasional, MNU (Multi National United) untuk mengawasi dan mengontrol para prawn. Dua puluh tahun berlalu para prawn dan distrik 9 telah menjadi bagian (area slum) dari kota Johannesburg. Prawn ternyata juga berintelegensia tinggi dan memiliki senjata ampuh yang diminati MNU. Dengan dalih kemanusiaan MNU mulai menyapu distrik 9 dan berencana memindahkan mereka ke distrik 10 yang jauh dari kota. Masalah bermula ketika pimpinan divisi lapangan MNU, Wikus van der Merwe (Copley) secara tak sengaja terciprat wajahnya oleh cairan misterius milik prawn bernama Christoper Johnson yang lambat laun secara genetis merubah dirinya menjadi prawn.

Tak bisa disangkal, District 9 adalah salah satu film fiksi-ilmiah terbaik yang pernah diproduksi. Naskah cerita orisinil serta unsur dramatik yang kuat menjadi salah satu kunci kekuatan filmnnya. Sepanjang film, District 9 juga dikemas secara unik menggunakan teknik dan gaya dokumenter. Sekuen pembuka yang mengisahkan latar-belakang kedatangan pesawat angkasa dikemas secara singkat dengan sangat menawan layaknya ulasan berita. Sekuen ini juga menampilkan wawancara pejabat MNU serta beberapa narasumber. Penggunaan teknik handheld camera sepanjang filmnya serta terkadang POV shot kamera TV serta CCTV juga semakin memperkuat efek realisme. Kombinasi teknik ini plus pencapaian CGI yang amat sangat memukau membuat penonton sulit membedakan antara aksi nyata dengan rekayasa digital. Sungguh pencapaian yang sulit dipercaya untuk film sekelas (independen) ini.

Sejak awal sebenarnya telah terlihat nuansa politik dalam cerita filmnya. Afrika Selatan beberapa dekade silam kita kenal dengan rezim apartheid yang secara legal memisahkan satu ras dengan ras lainnya yang berakhir pada era Nelson Mandela pada dekade 90-an. Layaknya era apartheid, ras alien (prawn) dipisahkan secara paksa dengan ras manusia. Area diluar distrik 9 terlarang bagi prawn dan mereka juga tidak mendapatkan sarana dan fasilitas hidup yang tidak manusiawi. Terlepas dari nuansa politiknya lebih jauh film ini sebenarnya berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Kekuasaan dan ketamakan manusia menjadi penekanan tema filmnya. MNU dan para gangster saling berebut mendapatkan Wikus untuk kepentingan mereka. Makhluk asing justru digambarkan lebih manusiawi ketimbang ras manusia sendiri dan nasib sial bagi mereka harus jatuh ke planet bumi. Film ini juga membuka kita untuk menafsirkan apa saja. Bangkai pesawat angkasa raksasa yang melayang di atas kota bisa kita artikan sebagai umat manusia yang tidak lagi memiliki nurani.

District 9 adalah sebuah film fiksi-ilmiah istimewa dengan pendekatan yang sangat manusiawi. Pesawat angkasa tidak lagi mendarat di kota New York, Washington, Paris, London, atau kota-kota besar di dunia seperti lazimnya. Tidak ada adegan aksi pertempuran gila-gilaan antara umat manusia dan alien. Tidak ada tokoh jagoan serta aksi heroik. Semua hal dalam film ini manusiawi. Umat manusia justru disudutkan dan rasanya kita memang pantas untuk disudutkan. Film ditutup dengan sebuah shot sangat menyentuh memperlihatkan “Wikus” yang tengah membuat bunga mawar dari besi untuk istrinya. Apakah memang kita harus menunggu makhluk asing datang ke bumi untuk bisa menjadi manusia yang lebih mulia? (A)

5 comments:

Anonymous said...

i've seen this movie.and that was a-fucking-amazing movie.and i just cant believe if that was an independent movie...pencapaian yang luar biasa untuk sebuah film indie.

bwr said...

saat menonton, sepanjang film membuat saya terheran-heran dan kagum, baru kali ini lihat film independen sebagus tema dan ceritanya:....bwr

Latif Rusdi said...


Sampai di 2016 ini saya tetap menanti kelanjutan film district 9

Latif Rusdi said...


Sampai di 2016 ini saya tetap menanti kelanjutan film district 9

Unknown said...

Sorry, agan" semua numpang nanya nih film DISTRICT 9 ada kelanjutannya gak? gua pnasaran bngt sama tuh film