The Dark Knight, Only a Joker Show…

20 July 2008,

Satu lagi kisah superhero yang paling ditunggu tahun ini adalah, The Dark Knight yang merupakan sekuel dari Batman Begins (2005). The Dark Knight masih disutradarai oleh Christopher Nolan yang juga menulis naskahnya. Kastingnya sebagian besar juga masih sama yakni, Christian Bale (Bruce Wayne), Michael Caine (Albert), Gary Oldman (Komisaris Gordon), dan Morgan Freeman (Lucius Fox), hanya karakter Rachel yang dulu diperankan Katie Holmes kali ini digantikan oleh Maggie Gyllenhaal. Bintang-bintang baru yang tampil kali ini adalah mendiang Heath Ledger sebagai Joker dan Aaron Eckhart sebagai Harvey Dent/Two Face.




Sejak kemunculan Batman dikisahkan angka kriminalitas di kota Gotham semakin menurun karena para mafia memilih untuk menghindari konflik dengan sang jagoan. Seorang kriminal jenius bernama Joker berdiri diantara Batman, pihak penegak hukum, dan mafia. Joker tidak hanya mengincar uang namun lebih jauh ia ingin memunculkan sisi jahat yang ada dalam diri tiap manusia, tidak terkecuali sang jagoan. Dengan skema jahatnya yang begitu matang Joker mampu mempermainkan dua sosok kunci penegak keadilan, Bruce Wayne serta jaksa Harvey Dent hingga terjebak dalam konflik psikologis yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Bicara soal plot The Dark Knight jauh lebih rumit dan kompleks dari Batman Begins. Adegan aksi begitu minim dan sarat dengan dialog-dialog yang mengantarkan konflik psikologis yang menjadi ciri sang sineas serta intrik yang begitu rumit sepanjang filmnya. Intrik yang berjalan begitu cepat, tanpa henti, dan kompleks membuat penonton selalu penasaran (tapi mudah ditebak) namun durasi yang cukup lama cenderung membuat film ini membosankan dan melelahkan. “Kematian” Gordon yang begitu cepat amat mudah terlihat sebagai skema untuk mengecoh Joker. Lalu bagaimana jika Batman gagal mengejar Joker atau Dent tewas dalam aksi kejar mengejar seru di bawah jalan layang. Bukankah semua sia-sia? Setelah Joker tertangkap (sengaja ditangkap?) dan adegan berpindah, langsung tampak jika semua adalah skema Joker untuk mengecoh Batman dan Gordon. Jika benar Joker menginginkan untuk ditangkap (masuk ke kantor polisi dan membebaskan Lau) seperti kata Gordon lalu untuk apa ia bersusah payah membunuh Harvey pada adegan sebelumnya. Wow rumit sekali… Juga banyak detil cerita lainnya yang rasanya terlalu beresiko dan terlalu banyak variabel serta kemungkinan yang dapat membuat skema mereka tidak berjalan sesuai rencana.

Harus diakui memang, konflik fisik maupun batin para karakternya mampu disajikan prima dengan dukungan dialog-dialog yang powerful. Namun plot yang demikian kompleks membuat seluruh perhatian tertuju hanya pada cerita film tanpa sedikitpun memberikan ruang dan waktu yang cukup bagi penonton untuk bisa berempati pada tiap karakternya. Kecuali karakter Joker, sulit rasanya bersimpati dengan karakter manapun. Ketika seorang karakter utama tewas sulit mengatakan bagaimana seharusnya bersikap karena semuanya berjalan terlalu cepat.

Satu hal yang menjadi kunci utama kelebihan The Dark Knight adalah performa brilyan dari aktor muda Heath Ledger (alm) sebagai Joker. Di akhir hayatnya sang aktor dengan brilyan mampu memerankan sosok kriminal yang begitu dingin, kejam, serta “menjijikkan”. Coba perhatikan aksinya ketika ia menancapkan pensil yang ia letakkan di meja ke wajah salah satu bodyguard mafia, “now you see it… now you don’t!”, sebuah adegan begitu sadis yang dilakukan dengan entengnya. Ledger jarang melakukan aksi fisik namun yang menjadi senjatanya adalah kemampuannya bersilat lidah untuk mempengaruhi lawan bicaranya. Sang sineas pun sama sekali tidak memperlihatkan latar belakang Joker namun dari gestur, cara berbicara, hingga make-up wajahnya telah mampu menampakkan sosok yang dingin, kejam, tanpa empati, sadistis, masa lalu traumatik, atau bisa kita sederhanakan sebagai sosok yang “sakit” (mental). Hal ini jauh berbeda dengan penampilan Joker yang komikal dalam Batman (1989) yang diperankan oleh Jack Nicholson. Begitu kuatnya penampilan Ledger sebagai Joker hingga kemunculannya sepanjang film jauh lebih dinanti ketimbang karakter Batman sendiri. Tidak berlebihan rasanya jika sejauh ini kita katakan bahwa Ledger bermain sebagai karakter antagonis (villain) terbaik sepanjang sejarah film superhero.

Selain plot yang terlalu kompleks, suasana dan mood setting juga menjadi kelemahan lainnya. Tim Burton dalam Batman dan Batman Returns berhasil membangun suasana Kota Gotham yang modern, gelap, dan suram melalui set bergaya ekspresionis. Dalam Batman Begins, Nolan mampu memadukan unsur fantasi dan nyata begitu sempurna sehingga mampu menampilkan Kota Gotham yang modern dengan mood a la film noir. Sementara setting The Dark Knight begitu realistik seperti layaknya melihat sebuah film aksi biasa dengan tokoh superhero. Setting Kota Gotham (fiktif) mestinya berbeda dengan setting film Spiderman atau Iron Man yang memang mengambil tempat di kota yang benar-benar nyata. Amat disayangkan mengapa suasana serta mood setting yang gelap, suram, sekaligus modern yang tampak dalam Batman Begins hilang begitu saja. Apa bisa jadi disebabkan karena setting cerita sering mengambil adegan di siang hari serta banyak menggunakan shot on location. I don’t know… maybe it’s not a problem for most audience… but it’s a really big problem to me…

Seperti dalam Batman Begins, walau sangat minim namun sang sineas begitu trampil menampilkan adegan aksi-aksi seru yang sangat menawan. Patut dicatat adalah aksi kejar-mengejar dan tembak menembak sangat seru dibawah jalan layang yang melibatkan truk-truk berukuran besar. Aksi mampu disajikan begitu realistik dan meyakinkan seperti film-film aksi lazimnya. “Batmobile” yang muncul dalam film sebelumnya kembali digunakan dan kali ini mobil tersebut dapat “dipecah” menjadi sebuah motor besar yang mampu berbalik 180º. Hanya sayangnya peralatan-peralatan kecil (gadget) yang menjadi ciri khas Batman tidak terlalu ditonjolkan seperti dalam film-film sebelumnya.

Kasting utama lainnya baik Bale, Caine, Eckhart, Oldman, serta Freeman bermain sangat baik dalam peran mereka masing-masing. Sementara Gyllenhaal sebagai Rachel rasanya kurang mampu menimbulkan efek chemistry yang seharusnya muncul ketika ia bersama Bruce Wayne dan Harvey Dent. Sikap Rachel tampak bias sepanjang filmnya (or is it?). Selain Ledger, akting Bale, Eckhart, serta Oldman mendominasi sepanjang film. Lalu dua aktor kawakan, Caine dan Freeman yang dalam film sebelumnya tampil cukup dominan kali ini hanya tampil sesekali.

Sebagai penutup secara keseluruhan The Dark Knight amat mengecewakan dari sisi plot serta setting namun performa brilyan Ledger sebagai Joker mampu mengangkat film ini ke level yang lebih “gelap” dari film-film superhero sebelumnya. Simpati terhadap Ledger yang tewas secara tragis tak lama setelah produksi filmnya sepertinya akan mampu menambah daya tarik orang untuk menonton film ini. Banyak pengamat asing beranggapan penampilan Ledger merupakan salah satu performa yang akan melegenda dan patut diganjar penghargaan Oscar. Ledger memang berakting sangat baik, tapi untuk mendapatkan Oscar… sepertinya tidak. (B)

5 comments:

Anonymous said...

Wah reviewnya spoiler banget ya Pak..kasian kalo yang belum nonton... sebaiknya mungkin dikasih Pemberitahuan dulu ya.... ( Warning material with Spoiler ) hehehehe

T Suryawan (tycoon_ws@yahoo.com) said...

Pertama kali yang harus di ingat bahwa batman berbeda dengan super hero lainnya misalnya superman dan spiderman konteks ke 'superheroan' mereka beda, batman tidak kebal peluru dan tidak punya kekuatan super, kedua kota gotham memiliki penjahat yang sakit jiwa (hampir sama sakit jiwanya dengan batman sendiri). Dalam konteks tersebut batman bekerja sebagai detektif (super) dan (biasanya ) tidak bisa menyelamatkan jiwa orang yang terancam bahaya. Batman bekerja menangkap penjahat setelah kejahatan terjadi. Penjahat di gotham tidak segan-segan membunuh orang-orang tidak bersalah untuk mencapai tujuannya sehingga selama batman bekerja banyak korban yang berjatuhan, sampai si penjahat tertangkap. Keadaan ini membuat tindakan dan attitude batman berbeda dengan tokoh superhero lainnya. Walaupun secara penampilan/panorama/shoot film ini lebih 'terang' dari batman begin. Tapi secara emosional sangatlah gelap, joker berusaha membuat orang 'sadar' bahwa sebenarnya ia sama warasnya dengan orang lain, bahwa deep down orang akan berlaku sama dengan yang dilakukannya apabila terpaksa/ hidupnya terancam. Harvey Dent patah hati lalu menjadi gila dan mencari keadilan dengan caranya sendiri yaitu 50-50. Menggantungkan pilihan dan hukuman pada sebuah koin. Batman berusaha menekan kejahatan di kota gotham dengan memakai topeng dan menghukum penjahat tanpa ia sendiri berubah menjadi penjahat. Christopher Nolan membuat film Batman ke dua ini menjadi semakin mencekam dan penuh dengan drama dimana dramanya lebih mencekam daripada aksi laga yang manapun. Penonton dibuat masuk kedalam kota gotham dan dibuat mengerti bahwa joker pun punya versi kebenarannya sendiri, dimana tujuannya cuma kerusakan dan penghancuran moral dan susila. Joker tidak memiliki rencana untuk membunuh dent, tidak bermaksud untuk membebaskan lau, ia hanya memiliki satu rencana penghancuran, kalau dent mati dalam kejar2an, bagus, ia tetap akan mengejar lau dan atau membebaskan lau dengan mengebom kantor polisi menggunakan bom. Bom waktu Harvey dent dan Rachel digunakan joker untuk menyakiti Gordon dan Batman sekaligus. Perbedaannya film ini dengan komiknya, sebenarnya komik batman lebih sadis, beberapa penjahat dibiarkan mati oleh batman, misalnya the Magpie. Entah kenapa joker dibiarkan hidup oleh batman didalam film ini, ketika terjatuh dan akan matipun joker masih terus tertawa.
Sebuah genre film Batman yang sangat bagus apalagi di endingnya dinarasikan bahwa batman tidak diperlukan sebagai pahlawan, dia cukup sebagai pelindung dan penjaga walaupun ia diperlakukan (oleh masyarakat) seperti penjahat.
Bravo untuk Chris Nolan, Heath Ledger, Christian Bale dan aktor kawakan lainnya. (Setuju kalau Maggie Gyllenhaal bermain tidak optimal).

anton said...

memang banyak komentar beragam soal setting. saya sendiri menganggap settingnya kurang gelap (low-key)untuk film ini. setting film jadi terlihat ada sesuatu yang hilang. saya dengar beberapa sekuen filmya menggunakan kamera imax (70mm), apa mungkin karena memakai kamera jenis ini setting dibuat lebih terang.

Azri said...

Memang film yang sangat sayang untuk dilewati di bioskop.. mungkin kalo nonton di dvd kurang gregetnya ya.. hehehe... btw salut untuk cris nolan bisa membuat orang penasaran ( faktor Heath Ledger) dan berhasil membawa Dark Knight sebagai film terlaris no 2 sepanjang masa di Amrik sono... Dari sisi cerita memang sedikit membingungkan, konflik2 tidak jelas antara yang kebetulan atau terencana....dan kenapa Batman mau membuka identitasnya secepat itu ?? bukannya malah memberi kemenangan buat joker...ya memang masih banyak pertanyaan laennya..kayaknya memang saya harus lihat lagi..hehehe. Tapi secara keseluruhan Dark Knight memang layak di tunggu..terutama Performance Sang Joker yang sungguh2 Gila juga adegan aksi yang betul2 menghibur... ya kita tunggu aksi Batman selanjutnya 2011,kalo ga salah.... :)

ariyo mukti said...

Sebenarnya Heath Ledger dapet Piala Oscar gan. Pemeran pembantu terbaik
Cuma mau ngeinfo aja :)